Kamis, 28 Juli 2011

ROUTER STATIC

Static Router
Router adalah piranti jaringan yang memungkinkan kita bisa menghubungkan inter-network dan memungkinkan forwarding packet secara cerdik. Router network digunakan untuk menghubungkan layanan WAN dan secara optional memberikan keamanan jaringan dasar melalui packet filter (dengan menggunakan extended access lists). Pemilihan dasar router network adalah sangat kritis dalam hal kita membangun koneksi WAN; membuat syste m keamanan tingkat advance; dan melakukan management network.

Suatu static route adalah suatu mekanisme routing yang tergantung dengan routing table dengan konfigurasi manual. Disisi lain dynamic routing adalah suatu mekanisme routing dimana pertukaran routing table antar router yang ada pada jaringan dilakukan secara dynamic.

Dalam skala jaringan yang kecil yang mungkin terdiri dari dua atau tiga router saja, pemakaian static route lebih umum dipakai. Static router (yang menggunakan solusi static route) haruslah di configure secara manual dan dimaintain secara terpisah karena tidak melakukan pertukaran informasi routing table secara dinamis dengan router-router lainnya. Lihat juga artikel tentang memahami hardware router.
Suatu static route akan berfungsi sempurna jika routing table berisi suatu route untuk setiap jaringan didalam internetwork yang mana dikonfigure secara manual oleh administrator jaringan. Setiap host pada jaringan harus dikonfigure untuk mengarah kepada default route atau default gateway agar cocok dengan IP address dari interface local router, dimana router memeriksa routing table dan menentukan route yang mana digunakan untuk meneruskan paket. Lihat juga DNS forwarding untuk memahami default gateway.
Konsep dasar dari routing adalah bahwa router meneruskan IP paket berdasarkan pada IP address tujuan yang ada dalam header IP paket. Dia mencocokkan IP address tujuan dengan routing table dengan harapan menemukan kecocokan entry – suatu entry yang menyatakan kepada router kemana paket selanjutnya harus diteruskan. Jika tidak ada kecocokan entry yang ada dalam routing table, dan tidak ada default route, maka router tersebut akan membuang paket tersebut. Untuk itu adalah sangat penting untuk mempunyai isian routing table yang tepat dan benar.
Static route terdiri dari command-command konfigurasi sendiri-sendiri untuk setiap route kepada router. sebuah router hanya akan meneruskan paket hanya kepada subnet-subnet yang ada pada routing table. Sebuah router selalu mengetahui route yang bersentuhan langsung kepada nya – keluar interface dari router yang mempunyai status “up and up” pada line interface dan protocolnya. Dengan menambahkan static route, sebuah router dapat diberitahukan kemana harus meneruskan paket-paket kepada subnet-subnet yang tidak bersentuhan langsung kepadanya.
Gambar berikut adalah contoh diagram agar memudahkan kita memahami bagaimana kita harus memberikan konfigurasi static route kepada router. Pada contoh berikut ini dua buah ping dilakukan untuk melakukan test connectivity IP dari Sydney router kepada router Perth.

Keuntungan static route:
•Static route lebih aman disbanding dynamic route
•Static route kebal dari segala usaha hacker untuk men-spoof paket dynamic routing protocols dengan maksud melakukan configure router untuk tujuan membajak traffic.
Kerugian static route:
•Administrasinya adalah cukup rumit disbanding dynamic routing khususnya jika terdiri dari banyak router yang perlu dikonfigure secara manual.
Rentan terhadap kesalahan saat entry data static route dengan cara manual.
Sumber:
http://www.sysneta.com/dns-forwarding
http://www.sysneta.com/memahami-routing-protocol
http://www.sysneta.com/router-network

ROUTING DYNAMIC

Routing Dynamic
Menggunakan protokol routing yang membuat tabel routing secara otomatis jika topologi jaringan berubah-ubah. Routing dynamic secara umum dapat dibagi dalam dua kategori. Distance vector dan Link state routing protocol, yang masing-masing terdiri dari bermacam-macam routing protocol.
RIP (Routing Information Protocol) merupakan protocol paling sederhana yang termasuk jenis distance vector. RIP menggunakan jumlah lompatan (hop count) sebagai metric dengan 15 hop maksimum. Jadi hop count yang ke-16 tidak dapat tercapai dan router akan memberikan error message "destination is unreachable" (tujuan tidak tercapai). Daftar tabel routing protokol RIP di-update setiap 30 detik, sedangkan default administrative distance untuk RIP yaitu 120.
Untuk menerapkan RIP pada router, berikut perintahnya :
router(config)#router rip
Routing Dinamik diterapkan pada PC yang berfungsi sebagai router dan dibutuhkan router lain yang sama-sama menerapkan sistem routing dinamik, jadi tidak bisa berdiri sendiri.
Untuk menerapkan RIP tersebut ke suatu network address, berikut perintahnya :
router(config-router)#network
network_id


Cara mengkonfigurasikan RIP untuk Router 1 sebagai brikut :
router1(config)#ip routing
router1(config)#router rip
router1(config-router)#network 215.10.20.0
router1(config-router)#network 215.10.10.0
router1(config-router)#exit router1#write mem
Routing Dinamik menentukan gateway untuk network destination berdasarkan parameter yang didapat dari router lainnya melalui Protokol Multicast, seperti metrik, cost dsb. Protocol RIP dan OSPF menggunakan multicast untuk pertukaran informasi antar router, sedangkan protokol BGP menggunakan koneksi TCP untuk pertukaran routingnya.

Dynamic routing protocol digunakan oleh router untuk membagi informasi tentang penjangkauan dan status dari remote network. Dynamic routing protocol contohnya:
1. network discovery
2. memelihara dan meng-update tabel routing

Automatic network discovery
network discovery adalah kemampuan routing protokol untuk membagi informasi tentang jaringan dengan router lainnnya dengan menggunakan routing protokol yang sama.

Maintaining routing tables
Setelah mengenal jaringannya, routing dinamik akan selalu meng-update dan menentukan jalur2nya pada tabel routingnya. routing dinamik tidak hanya membuat jalur terbaik ke jaringan yang berbeda, roting dinamik juga akan menentukan jalur baru yang baik jika tujuannya tidak tersedia (jika topologinya berubah).
untuk ini, routing dinamik mempunyai keuntungan lebih dari routing static. router yang menggunakan dinamic routing akan secara otomatis membagi informasi routingnya kepada router yang lain dan menyesuaikan dengan topologi yang berubah tenpa pengaturan dari seorang admin jaringan.

IP routing protocol
ada beberapa routing dinamic untuk IP. dibawah ini adalah dinamik routing yang sering digunakan :
1. RIP (Routing Information Protocol)
2. IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)
3. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
4. OSPF (Open Shortest Path First)
5. IS-IS (Intermediate System-to-Intermediate System)
6. BGP (Border Gateway Protocol)

Senin, 25 Juli 2011

TCP/IP Versi 6

     IP versi 6 merupakan generasi dari IP versi 4 dengan jumlah bitnya sebanyak 128 bit. IPv6 memiliki panjang 128-bit. IPv4, meskipun total alamatnya mencapai 4 miliar, pada kenyataannya tidak sampai 4 miliar alamat, karena ada beberapa limitasi, sehingga implementasinya saat ini hanya mencapai beberapa ratus juta saja. IPv6, yang memiliki panjang 128-bit, memiliki total alamat yang mungkin hingga 2128=3,4 x 1038 alamat. Total alamat yang sangat besar ini bertujuan untuk menyediakan ruang alamat yang tidak akan habis (hingga beberapa masa ke depan), dan membentuk infrastruktur routing yang disusun secara hierarkis, sehingga mengurangi kompleksitas proses routing dan tabel routing.
IPv6 juga mengizinkan adanya DHCP Server sebagai pengatur alamat otomatis. Jika dalam IPv4 terdapat dynamic address dan static address, maka dalam IPv6, konfigurasi alamat dengan menggunakan DHCP Server dinamakan dengan stateful address configuration, sementara jika konfigurasi alamat IPv6 tanpa DHCP Server dinamakan dengan stateless address configuration
Dalam IPv6, alamat 128-bit akan dibagi ke dalam 8 blok berukuran 16-bit, yang dapat dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit. Setiap blok bilangan heksadesimal tersebut akan dipisahkan dengan tanda titik dua (:). Karenanya, format notasi yang digunakan oleh IPv6 juga sering disebut dengan colon-hexadecimal format, berbeda dengan IPv4 yang menggunakan dotted-decimal format.
Berikut ini adalah contoh alamat IPv6 dalam bentuk bilangan biner:
0010000111011010000000001101001100000000000000000010111100111011000000101010101000000000

1111111111111110001010001001110001011010
Untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk notasi colon-hexadecimal format, angka-angka biner di atas harus dibagi ke dalam 8 buah blok berukuran 16-bit:
0010000111011010 0000000011010011 0000000000000000 0010111100111011 0000001010101010

 0000000011111111 1111111000101000 1001110001011010
Lalu, setiap blok berukuran 16-bit tersebut harus dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal dan setiap bilangan heksadesimal tersebut dipisahkan dengan menggunakan tanda titik dua. Hasil konversinya adalah sebagai berikut:
21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A

     Dalam pendesignan header packet ini, diupayakan agar cost/nilai pemrosesan
header menjadi kecil untuk mendukung komunikasi data yang lebih real time. Misalnya,
address awal dan akhir menjadi dibutuhkan pada setiap packet. Sedangkan pada header
IPv4 ketika packet dipecah-pecah, ada field untuk menyimpan urutan antar packet. Namun
field tersebut tidak terpakai ketika packet tidak dipecah-pecah. Header pada Ipv6 terdiri
dari dua jenis, yang pertama, yaitu field yang dibutuhkan oleh setiap packet disebut header
dasar, sedangkan yang kedua yaitu field yang tidak selalu diperlukan pada packet disebut
header ekstensi, dan header ini didifinisikan terpisah dari header dasar. Header dasar selalu
ada pada setiap packet, sedangkan header tambahan hanya jikadiperlukan diselipkan antara
header dasar dengan data. Header tambahan, saat ini didefinisikan selain bagi penggunaan
ketika packet dipecah, juga didefinisikan bagi fungsi sekuriti dan lain-lain. Header
tambahan ini, diletakkan setelah header dasar, jika dibutuhkan beberapa header maka
header ini akan disambungkan berantai dimulai dari header dasar dan berakhir pada data.
Kebijakan allokasi IPv6:
. Regular allocations
. Peering dengan = 3 subTLA (Top Level Aggregator) dan
. Merencanakan untuk menyediakan pelayanan IPv6 tidak lebih dari 12 bulan, atau
. Mempunyai = 40 SLA (Site Level Aggregator) customer.
Bootstrap
. Peering dengan = 3 AS (Autonomous System Number) dan
. Merencanakan untuk menyediakan pelayanan IPv6 tidak lebih dari 12 bulan, atau
. Mempunyai = 40 IPv4 customer, atau
. Mempunyai kemampuan 6bone experience.
Untuk mendapatkan allokasi IPv6 dari Asia Pacific Network Information Center
(APNIC), anda harus mengirimkan permohonan IPv6 menggunakan form
http://www.apnic.net/apnic-bin/ipv6-subtla-request.pl , untuk wilayah Indonesia anda bisa
mengirimkan form permohonan IPv6 yang juga bisa diambil dari homepage APNIC:
http://www.apnic.net/apnic-bin/ipv6-subtla-request.pl , kemudian mengirimkan form
tersebut ke ip-request@apjii.or.id , tapi sebelumnya anda mendaftarkan sebagai anggota
APJII untuk mendapatkan pelayanan ini. Saat ini telah terdapat beberapa vendor yang telah
mendukung IPv6, diantaranya:
1. IPv6 Ready: 3Com, Epilogue, Ericsson/Telebit, IBM, Hitachi, KAME, Nortel, Trumpet
2. Beta Testing: Apple, Cisco, Compaq, HP, Linux community, Sun, Microsoft.
3. Implementing: Bull, BSDI, FreeBSD, Mentat, NovelL,SGI, dan lain sebagainya.
Berdasarkan data dari 6BONE (http://www.6bone.net) saat ini telah terdapat
200 situs yang terdapat di 39 negara yang telah bertarsipasi dalam pengembangan tentang
IPv6 ini, dan terdapat berbagai lembaga yang turut berpartisipasi mengadakan riset
mengenai IPv6 ini, diantaranya adalah: CAIRN, Canarie, CERNET, Chunghawa Telecom,
DANTE, Esnet, Internet2, IPFNET, NTT, Renater, Singren, Sprint, SURFnet, vBNS,
WIDE. IANA sebagai lembaga tertinggi untuk pembagian Internet Resource telah
mengalokasikan IPv6 resource ke 3 Regional Internet Registries (RIR), dengan perincian
sebagai berikut:
1. APNIC : 2001:0200::/23
2. ARIN : 2001:0400::/23
3. RIPE NCC : 2001:0600::/23
Pada saat ini terdapat 3 Regional Internet Registries (RIR) yang telah
mengalokasikan 49 allocate IPv6 dengan perincian sebagai berikut :
1. APNIC telah mengalokasikan 19 allokasi IPv6.
2. RIPE NCC telah mengalokasi 21 allokasi IPv6.
3. ARIN telah mengalokasikan 9 allokasi IPv6.
Untuk mendapatkan status daftar dari allokasi IPv6 oleh Regional Internet
Registries anda bias mendapatkan informasi ini di situs 6Bone (http://www.6bone.net).

Kamis, 21 Juli 2011

SUBNETTING

Subnetting adalah seperangkat teknik yang dapat gunakan untuk secara efisien membagi ruang alamat dari prefiks alamat unicast untuk alokasi di antara subnet dari suatu jaringan organisasi. Bagian tetap prefiks alamat unicast mencakup bit sampai dengan dan termasuk panjang prefiks yang memiliki nilai didefinisikan. Bagian variabel dari prefiks alamat unicast meliputi bit melampaui panjang prefiks yang diatur ke 0.Subnetting adalah penggunaan bagian variabel prefiks alamat unicast untuk membuat prefiks alamat yang lebih efisien (bahwa limbah alamat yang mungkin lebih sedikit) untuk penugasan ke subnet dari suatu jaringan organisasi.
Subnetting untuk IPv4 awalnya didefinisikan untuk membuat lebih baik menggunakan bit-bit host untuk Kelas A dan Kelas B prefiks alamat publik IPv4.  

Alamat IP versi 4 (sering disebut dengan Alamat IPv4) adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 4. Panjang totalnya adalah 32-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 4 miliar host komputer atau lebih tepatnya 4.294.967.296 host di seluruh dunia, jumlah host tersebut didapatkan dari 256 (didapatkan dari 8 bit) dipangkat 4(karena terdapat 4 oktet) sehingga nilai maksimal dari alamt IP versi 4 tersebut adalah 255.255.255.255 dimana nilai dihitung dari nol sehingga nilai nilai host yang dapat ditampung adalah 256x256x256x256=4.294.967.296 host. sehingga bila host yang ada diseluruh dunia melebihi kuota tersebut maka dibuatlah IP versi 6 atau IPv6.

Pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah IP, karena IP inilah yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan orang orang dari seluruh penjuru dunia yang terhubung ke internet. IP adalah singkatan dari Internet Protocol. Protokol disini saya analogi kan sebagai suatu bahasa penghantar yang digunakan oleh internet untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Jika bahasa yang digunakan ini berbeda, maka komunikasi pun tidak dapat dilakukan.

Berawal dari konsep itulah, maka kita mengenal istilah TCP/IP yang digunakan untuk menyeragamkan semua protokol yang kita gunakan untuk dapat berkomunikasi dengen seluruh penjuru dunia yang terhubung dengan internet.

Format IP Address pun terlihat dengan jelas x.x.x.x dimana jumlah bit secara keseluruhan adalah 32 bit. Bearti di setiap segment mempunyai 8 bit. Bisa kita tuliskan
seperti ini:
11111111.11111111.11111111.11111111 = 255.255.255.255
Dari angka tersebut, dapat kita ambil kesimpulan, bahwa kita mempunyai range IP Address dari alamat 0.0.0.0 sampai dengan 255.255.255.255, dan bisa kita hitung jumlah ip address yang tersedia adalah 256 * 256 * 256 * 256 = 4294967296 (hitungnya pake kalkulator, jgn pake tangan yah :) ). Mungkin anda sekalian bertanya tanya, darimana muncul angka 256?. Kita ingat, bahwa setiap segment dari IP Address mempunyai 8 bit, dan kita bisa menggunakan formula ini: 2n, sehingga hasil perhitungan dari 28 adalah 256.
Dari jumlah address yang sebanyak itu, maka lahirlah pengelompokan-pengelompokan untuk lebih memudahkan kita memanage dan mengenal suatu IP Address. Kita mengenal beberapa lembaga atau badan usaha yang mengatur pengalamatan di internet ini, seperti misalnya InterNIC, ApNIC, atau di indonesia dikenal dengan ID-NIC. Adapun pengelompokan IP Address yang lazim dan dikenal adalah sebagai berikut:
Class A: 0.0.0.0 s/d 126.255.255.255
Class B: 128.0.0.0 s/d 191.255.255.255
Class C: 192.0.0.0 s/d 223.255.255.255
Class D: 224.0.0.0 s/d 239.255.255.255
Class E: 240.0.0.0 s/d 247.255.255.255
Class D dan Class E digunakan untuk Multicast dan Experiment purpose. Multicast disini adalah pengalamatan untuk keperluan streaming, misalnya audio streaming dan sebagainya, dan dikenal dengan istilah IP MultiCasting.
Kemudian anda mungkin bertanya-tanya, dimakah IP Address 127.0.0.0?, pertanyaan yang bagus. IP Address 127.0.0.0 ini sudah di reserved untuk keperluan localhost, artinya, secara default, PC kita mempunyai ip address default, yaitu 127.0.0.1
Dan kita juga mengenal adanya istilah Public IP Address dan Private IP Address. Public IP Address adalah ip address yang dikenal oleh internet / jaringan di luar dari local area network, sedangkan private ip address adalah alamat ip yang hanya digunakan untuk keperluan local area network dan tidak dikenal oleh internet.
Sehingga untuk dapat berkomunikasi, kita dapat melakukan suatu proses yang dikenal dengan Network Address Translation, yaitu dimana private ip address ini dapat berkomunikasi dengan dunia luar.
Adapun range untuk private ip address dari setiap class adalah sebagai berikut:
Private IP Address untuk Class A: 10.0.0.0
Private IP Address untuk Class B: 172.16.0.0 s/d 172.32.0.0
Private IP Address untuk Class C: 192.168.0.0
Mungkin anda bertanya lagi, mengapa harus ada private ip address? Karena kita tidak perlu meminta secara khusus untuk private ip address. Kita dapat memakainya tanpa perlu ijin dari suatu lembaga tertentu misalnya internet ataupun id-nic. Contoh konkrit adalah untuk ABC Local Area Network yang mempunyai 3 Network: 192.168.8.0, 192.168.10.0, dan yang terakhir 192.168.129.0
Semoga sampai bagian ini, anda sekalian telah mendapatkan gambaran tentang IP Address, karena kita akan memasuki dunia yang lebih gelap lagi dari mahluk yang menamakan dirinya IP Subnetting.
Sebelum kita memulai bahasan selanjutnya, perlu diingat juga, bahwa format ip address seperti yang terlihat diatas, terdiri dari 2 bagian utama, yaitu Network dan Host. Istilah Network disini dapat kita analogikan seperti nomor jaringan dan Host dapat kita analogikan sebagai PC anda. Masih jelas dalam ingatan anda pengelompokan dari IP Address, dimana dibedakan menjadi beberapa class, dimana di setiap kelas tersebut, mempunyai porsi network dan host sebagai berikut:
Class A: Network.Host.Host.Host
Class B: Network.Network.Host.Host
Class C: Network.Network.Network.Host
untuk Class A, dapat kita simpulkan terdiri dari 8 bit Network Address, dan 24 Bit Host Address
untuk Class B, dapat kita simpulkan terdiri dari 16 bit Network Address, dan 16 Bit Host Address
untuk Class C, dapat kita simpulkan terdiri dari 24 bit Network Address, dan 8 Bit Host Address
kita ambil contoh untuk ip address class A, terlihat dengan jelas, bahwa available host yang tersedia adalah 256 * 256 * 256 = 16777216. Suatu angka yang sangat besar.

Sebagai contoh:
Sebuah perusahaan medium yang mempunyai PC atau Client atau Host sebanyak 50 buah. Anda sebagai seorang network / system engineer diminta untuk mendesain atau mengalokasikan sejumlah ip address untuk keperluan customer tersebut. Jika kita lihat disini, untuk jumlah host yang paling kecil dan memenuhi syarat adalah jika kita menggunakan ip address dari class c, karena jumlah maksium host dari class c adalah 254 (anda mungkin bertanya kenapa bukan 256?, karena dalam konsep IP, 2 ip address tidak bisa kita pakai, yang pertama digunakan untuk network address, dan yang kedua digunakan untuk broadcast address, formulanya adalah 2n -2). Itulah sebabnya, pada contoh kasus ini, kita hanya memerlukan satu network yang bisa meng-cover jumlah host yang sedikit itu.
Okei, kita sepakat mengambil satu ip address dari class c, misalnya: 192.168.5.0
dan kita akan memulai perhitungan ini dengan mengunakan bilangan biner, jika anda melihat kembali diatas, bahwa ip address untuk Class C terdiri dari N.N.N.H, dimana N adalah Network dan H adalah Host, untuk sementara ini, kita abaikan dulu network addressnya, kita fokuskan pada host addressnya.
host address pada class c yang akan kita pecah akan terlihat seperti ini: N.N.N.– N.H *karena kita akan miminjam beberapa bit dari host yang kita jadikan sebagai network address*
host address pada class c yang terdiri dari 8 bit: 1 1 1 1 1 1 1 1 = 255
kita juga perlu mengingat hitungan 2n yang akan kita lakukan pada setiap perhitungan ip address: 27 + 26 + 25 + 24 + 23 + 22 + 21 + 20
hasil dari bilangan pangkat diatas adalah berturut turut: 128 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 +  2 + 1 = 255
ingat, jumlah host yang diminta hanya 50, jika anda lihat, jika kita menjumlahkan dari angka 16 + 8 + 4 + 2 + 1, maka hasilnya adalah 31, sedangkan jumlah host yang diperlukan adalah 50. Kalau begitu kita harus menjumlahkan lagi dari angka 32 + 16 + 8 + 4 + 2 +1, maka hasilnya adalah 63, dan kita telah memenuhi syarat karena jumlah host yang diperlukan hanya 50.
bearti: kita meminjam 2 bit dari 8 bit yang ada untuk dijadikan sebagai network
address. 2 bit itu adalah angka 128, dan 64. jika kita jumlahkan, akan menghasilkan 192
maka: subnet address untuk network ini adalah 255.255.255.192 atau kita bisa
menuliskan 192.168.5.0/26 **untuk ip address tanpa subnetting adalah /24 atau
255.255.255.0, karena kita meminjam 2 bit, tinggal kita tambahkan saja, sehingga menjadi /26 atau 255.255.255.192**
kemudian: kita tentukan network address untuk subnet mask tersebut, caranya, anda
tinggal mengurangkan saja dari total bit **cara ini mungkin berbeda dengan yang lain, karena yang akan saya perlihatkan adalah perhitungan menggunakan method saya sendiri**
anda lakukan pengurangan ini: 256 – 192 = 64 (angka 256 adalah total keseluruhan bit, dan 192 adalah subnet address)
sehingga: network address pertama adalah: 192.168.5.64 / 26
network address kedua adalah: 192.168.5.128 / 26
network address ketiga adalah: 192.168.5.192 / 26 …dst….
hasilnya adalah: Network address = 192.168.5.64
Subnet mask = 255.255.255.192
ip address pertama adalah: 192.168.5.65 / 26
ip address terakhir adalah: 192.168.5.126/26
broadcast address adalah: 192.168.5.127
untuk mendapatkan broadcast address, and tinggal mengurangkan satu dari network address yang kedua, dalam hal ini 128 – 1 = 127

 
 

TCP/IP VERSI 4.0

      TCP (Transmission Control Protocol) adalah standar komunikasi data yang digunakan oleh komunitas internet dalam proses tukar-menukar data dari satu komputer ke komputer lain di dalam jaringan Internet. Protokol ini tidaklah dapat berdiri sendiri, karena memang protokol ini berupa kumpulan protokol (protocol suite). TCP digunakan pada jaringan secara kontinu (Connection Oriented). Artinya data yang dikirim dijamin akan tersampaikan dengan benar dan lengkap.
      TCP berfungsi mengawasi jalannya paket-paket data agar tidak hilang atau rusak dalam perjalanan tujuannya dan mengatur masalah perintah-perintah yang berhubungan dengan pengiriman paket data. Jika ada bagian paket data yang hilang atau rusak meski hanya sebagian, maka TCP akan mengirimkan ulang paket-paket data tersebut. Proses pengiriman paket-paket data akan berlangsung secara terus-menerus sampai paket-paket data yang diinginkan dapat sampai pada tujuannya. 
      Protokol TCP/IP merupakan protokol standar yang digunakan dalam jaringan komputer global yang dikenal dengan internet. Protokol TCP/IP terdiri dari 4 layer yaitu: aplikasi, transport, internet dan network interface-physical. Protokol TCP pada layer transport dan protokol IP pada layer network menjadi tulang punggung komunikasidata pada protokol TCP/IP. Untuk memahami bagaimana data dikirimkan sampai ke tujuan, kita perlu"menguliti TCP/IP" sehingga kita memahami proses pengiriman data tersebut. Pembahasan dalam tulisan ini difokuskan pada kedua protokol tersebut.
      Macam-macam protokol adalah sebagai berikut, FTP, POP.RIP, DNS, MIME, SMB,NFS, HTTP, NNTP, TELNET, SMTP, TCP, UDP, dll.
      Dalam melakukan tugasnya TCP dibantu oleh IP address. IP address adalah nomor atau angka yang mendefinisikan  alamat sebuah komputer dalam suatu jaringan. Dalam jaringan komputer, perlu suatu alamat pengindetifikasian komputer satu dengan komputer lainnya. Alamat ini harus dimiliki oelh setiap komputer. Dengan demikian pengiriman file-file data akan sampai pada alamat komputer yang dimaksud.
      Keunggulan TCP/IP, antara lain:
1. Adanya open protokol standard, yaitu tersedia secara bebas dan dapat dikembangkan secara indenpenden terhadap jenis hardware komputer atau sistem operasi apapun yang kita gunakan.
2. Terdapat High Protokol Standar yang dapat gunakan untuk melayani user secara luas.
3. Metode pengalamatan yang umum.


Sumber: Wiharsono Kurniawan, 2007. Jaringan Komputer: Yogyakarta. Andi Offset 
                http://www.bacaanonline.com

Selasa, 19 Juli 2011

OSI 7 LAYER

Mengenal model referensi ISO-OSI

       OSI 7 layer merupakan referensi untuk standar yang ditetapkan oleh ISO. Model referensi ISO menggunakan metode lapisan sebagai model referensi. Semua subsistem komunikasi dibagi menjadi tujuh lapisan. Pembagian ini untuk menentukan berbagai macam fungsi dan sistem operasi. Model yang digunakan dalam sistem komunikasi data ini dikenal dengan OSI (Open Sistem Interconecction) 7 layer.
       OSI sangat berperan dalam mengidentifikasi sistem komputer untuk melaksanakan pengolahan dan dipenyaluran data. Struktur model OSI dibagi atas tujuh lapisan (layer). Masing-masing lapisan mempunyai fungsi dan aturan tersendiri. Tujuan pembagian lapisan adalah mempermudah pelaksanaan aturan standar secara praktis. Pembagian ini juga untuk memungkinkan fleksibelitas, artinya apabila terjadi perubahan pada salah satu lapisan maka tidak akan berpengaruh pada lapisan lain. 

Pembagian OSI 7 Layer:
1. Lapisan Fisik (Physical Layer)
    Lapisan fisik merupakan lapisan paling rendah dari model referensi ISO. Lapisan fisik berhubungan dengan media fisik atau peralatan fisik dalam jaringan komunikasi data. Lapisan ini mengatur hubungan secara fisik antara satu titik ke titik lainnya pada jaringan. Lapisan fisik memberikan standar interface pada peralatan komputer dan peralatan komunikasi dalam penyaluran informasi. conntoh: ethernet, token bus, ring, dll. 

2. Lapisan Data Link (Data Link Layer)
    Lapisan data link menjamin agar data yang dikirimkan ke lapisan jaringan sampaikan ke tujuan dalam keadaan baik. Data yang akan dikirimkan dalam bentuk frame. Mekanisme yang dipakai dalam pengaturan struktur frame disebut HDLC (High Level Data Link Control).

3. Lapisan Jaringan (Network Layer)
    Lapisan jaringan bertanggung-jawab untuk membuat paket datan yang akan dikirimkan, memberikan fasilitas seperti pengalamatan jaringan (disebut routing),  dan melakukan pengontrolan aliran data pada komputer ke interface jaringan. Lapisan jaringan harus dapat membedakan pengalamatan oleh suatu jaringan, serta mengatur paket-paket data yang berukuran berbeda.

4. lapisan Transport (Transport Layer)
     Fungsi dasar lapisan transport adalah menerima data dari lapisan sesion, memisahkan menjadi bagian atau unit yang kecil, meneruskan ke lapisan jRINGn, dan menjamin unit-unit data tersebut sampai dengan benar.
5. Lapisan Session (Session Layer)
    Lapisan session menyediakan fasilitas bagi user jaringan untuk melakukan percakapan atau komunikasi dari satu mesin ke mesin yang lain.

6. Lapisan Presentasi (Presentation Layer)
    Lapisan presentasi digunakan untuk menyeleksi syntax data yang berada dalam jaringan. Lapisan presentasi memilikistandar encording (penyandian) yang digunakan dalam pemrosesan aplikasi data.

 7. Lapisan Aplikasi (Application Layer)
     Lapisan aplikasi merupakan lapisan tertinggi pada model referensi ISO. Biasanya berupa program atau aplikasi pada tingkat layanan informasi. beragam protokol standar tersedia pada lapisan ini.

Sumber: Wiharsono Kurniawan. 2007. Jaringan Komputer. yogyakarta: CV ANDI OFFSET

Senin, 18 Juli 2011

PENGAKSESAN DALAM JARINGAN


Metode media akses control diimplementasikan di dalam lapisan data-link pada tujuh lapisan model referensi OSI. Secara spesifik, metode ini bahkan diimplementasikan dalam lapisan khusus di dalam lapisan data link, yaitu:
- Media Access Control Sublayer
- Logical Link Control Sublayer

Ada 4 buah metode media akses control yang digunakan dalam jaringan local, yaitu:
1. Carrier Sense Multiple Access with Collision Detection (CSMA/CD)
Metode ini digunakan di dalam jaringan Ethernet half – duplex (jaringan Ethernet full-duplex). CSMA/CD merupakan metode akses jaringan yang paling popular digunakan di dalam jaringan local, jika dibandingkan dengan teknologi metode akses jaringan lainnya. CSMA/CD didefinisikan dalam spesifikasi IEEE 802.3 yang dirilis oleh Institute of Electrical dan Electronic Engineers (IEEE).

2. Token Ring
Standar token ring didefinisikan di dalam spesifikasi IEEE 802.5. pada metode ini token dilewatkan dari station/computer satu ke computer lain dalam urutan hingga token meng-encounter sebuah data yang dilewatkan token itu. Station lain menunggu hingga token terkirim. Topologi yang digunakan harus berbentuk ring.  Untuk menghindari masalah terhadap token yang tidak berguna atau token yang hilang maka diletakkan sebuah computer yang bertugas sebagai pengontrol atau monitor. Token ring menggunakan system pengalamatan 6 byte dan mendukung 2 laju data: 4 dan 16 MBps.
Token ring memiliki 3 jenis frame:
a. Data frame
Adalah frame yang hanya untuk mengangkut data. Memiliki idi field:
• Start Delimiter (SD)
Berisi I byte yang digunakan untuk memberitahu computer penerima ketika frame sampai.
• Access Control (AC)
Berisi I byte yang memuat informasi tentang prioritas dan reservasi.
• Frame Control (FC)
Berisi I byte yang memuat jenis informasi yang dimuat dalam data field.
• Destination Address (DA)
Panjangnya antara 2 sampai 6byte. Memuat physical address computer sebelumnya.
• End Delimiter (ED)
Berisi I byte yang mengindikasikan akhir dari frame.
• Frame Status(FS)
di-set oleh penerima untuk mengindikasikan bahwa frame sudah dibaca.
b. Token frame
Hanya berisi field SD, AC, dan ED
c. Abort frame
Hanya ada field SD dan ED. Digunakan oleh monitor untuk mengabaikan mekanisme token ketika ada masalah.
Terdiri dari penggunaan kabel 150ohm. Setiap computer dihubungkan ke output port pada sebuah computer yang disebelahnya yang lain lagi. Alirannya satuarah, jadi akan menjadi problem besar jika kabel-kabel yang menghubungkan 2 komputer putus atau rusak.

3. Token Bus
Merupakan jaringan computer yang menggunakan token ring virtual dalam suatu kabel coaxial. Sebuah token yang dikirimkan secara beranting dan bergantian dalam jaringan itu dipakai untuk menandai computer mana yang berhak untuk mengirimkan paket data. Masing-masing computer (node) harus tahu alamat dari node sebelahnya yang akan mendapat giliran dalam pengiriman data. Jika node tersebut tidak mempunyai data untuk dikirim, maka token aakan dikirim langsung ke node di sebelahnya. Jenis protocol token bus yang sering dipakai adalah dengan standar IEEE 802.4.
System protocol bus yang termodifikasi bias dipakai dalam jaringan FMS.
Karakteristik token bus:
Token bus memperbaiki kekurangan CSMA/CD, tidak menggunakan metode persaingan, dapat menetapkan system prioritas, dijaringan(prioritas urutan dilayani), distasiun(prioritas mendapatkan besar alokasi waktu pengaksesan), topologi yang digunakan bus bukan topologi ring, broadband 75 ohm cable, kabel single dan dual, tidak kompatibel dengan 802.3.